Wednesday, 14 February 2018

Memilih Dengan Hati Nurani

Memilih Dengan Hati Nurani

Perhelatan pesta demokrasi di seluruh wilayah Propinsi dan Kabupaten akan segera di gelar.

Salah satu di antara daerah yang mulai menggeliat kontestasi politiknya adalah Jawa Timur. Sebab Jatim dinilai sebagai satu-satunya tempat yang patut disebut miniatur dari pentas politik Indonesia.

Oleh karenanya, kepemimpinan di Jawa Timur cukup penting untuk dinalar secara serius. Apabila propinsi yang memiliki jumlah penduduk mencapai 39,29 juta jiwa pada tahun 2017 sebagaimana dilansir BPS Jawa Timur itu berada di tangan orang-orang yang tidak bertanggungjawab, maka kondisi yang diidamkan masyarakat Jatim akan hancur hanya karena segelintir pihak yang tak amanah.

Tetapi dalam kaitan kontestasi Cagub-Cawagub pada tahun 2018 ini, rupanya Jawa Timur perlu benar-benar berbahagia, karena balon yang sudah tersaring hanya dua pasangan: Nomor urut satu, Khofifah-Emil, dan nomor urut dua, Gus Ipul-Mbak Puti.

Kenapa berbahagia ? Sebab keempat orang itu merupakan aset bangsa yang telah memiliki segudang pengalaman-pengalaman memimpin. Di luar kelemahan masing-masing, kelebihan mereka pun juga telah terbukti di mata publik.

Secara sederhana dapat diurai profil singkat masing-masing mereka:
  • Dra. Khofifah Indar Parawansa adalah Menteri Sosial Indonesia ke-27 sejak 27 Oktober 2014. Ia juga adalah Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan ke - 5 pada Kabinet Persatuan Nasional.
  • Emil Elestianto Dardak atau Emil Dardak adalah seorang politikus, penyanyi dan eksekutif muda Indonesia yang menjabat sebagai Bupati Trenggalek sejak 17 Februari 2016.
  • Drs. H. Saifullah Yusuf adalah Wakil Gubernur Jawa Timur sejak tahun 2009. Pria kelahiran Pasuruan yang akrab dipanggil Gus Ipul itu pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pembanguan Daerah Tertinggal.
  • Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri atau lebih dikenal dengan sebutan Mbak Puti. Wanita kelahiran Jakarta, 26 Juni 1971 itu adalah seorang anggota DPR periode 2009 - 2014 dan 2014 - 2019.
Sekilas dari pengalaman mereka, menunjukkan bahwa masing-masing merupakan anak bangsa yang patut menjadi pilihan pemimpin daerah Jawa Timur.

Cuma karena dalam proses ini mengharuskan pemilik suara menjatuhkan pilihan pada satu pasangan calon, maka masyarakat dipersilahkan memilih salah satu kandidat dari dua pasangan sebagai pemenang pemilukada.

Di sini lah pentingnya cara memilih yang beradab tanpa memojokkan salah satu peserta dengan berkoar menjelekkan pihak lawan (black campaign) di antara mereka. Dari istilah saja sudah mengarah kepada sebuah upaya untuk merusak atau mempertanyakan reputasi seseorang, dengan mengeluarkan propaganda negatif.

Jelas cara demikian, selain tidak beretika juga menodai bangunan demokrasi yang sedang digalakkan. Kalaupun ia memenangkan sebuah pertarungan, pasti proses ini menjadi preseden buruk dalam sejarah bangsa yang sejak awal telah mempunyai nilai-nilai kesopanan yang agung.

Jika hanya sekedar memperebutkan kedudukan belaka, seseorang (kandidat atau pendukungnya) merelakan dirinya melakukan cara-cara yang tak elok, maka pada hakikatnya ia tidak beragama walaupun dengan lantang ia mengklaim dirinya bukan atheis.

Oleh sebab itu, anggota masyarakat diharapkan cerdas dan dewasa dalam menggunakan cara-cara mengkampanyekan pasangan calon. Selain itu, masyarakat juga di mohon memilih calon pemimpin sesuai hati nurani tanpa paksaan apalagi terpengaruh iming-iming sesuatu yang bersifat sementara belaka. Semoga Barokah.


Oleh: Muhammad Madarik Yahya

0 komentar:

Post a Comment