Thursday, 22 September 2016

Karena Semua Dapat Dijadikan Guru

Semenjak saya selesai kuliah, kegiatan sedikit berkurang. Satu sisi saya senang dengan kondisi begini. Di mana saya dapat istirahat, yang dulu hampir tak mempunyai waktu. Minimal dapat buat merenung dan mengevaluasi diri. Namun, bukan tidak ada kegiatan sama sekali. Masih ada tugas yang perlu saya lakukan. Seperti mengajar dan mengemban sebuah jabatan.

Di sisi lain, kondisi begini ternyata melemahkan produktifitas. Perlu diakui ternyata saya tak seproduktif di tahun yang lalu. Entah, apa mungkin ini sebuah fase pertumbuhan. Ataukah mungkin kurang tantangan. Atau memang karena malas. Ah, harus saya akui bahwa ini karena malas. Ya, malas.

Saya bersyukur ketika tadi teman-teman LDK mengajak saya mengikuti diskusi. Setelah saya bercengkrama dengan teman-teman UKM yang mempunyai visi dakwah Islam itu, saya teringat saat saya masih kuliah semester satu. Di mana waktu itu semangat jiwa masih berkobar. Terlebih dalam berorganisasi. Bahkan, sangking semangatnya seakan ingin menguasai dunia. Acara diskusi tadi dapat membuka cakrawala berpikir saya. Terlebih juga dapat menghangatkan jiwa semangat saya. Walaupun di ranah yang berbeda.

Sehingga, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa semua dapat dijadikan guru. Sekalipun itu lebih muda. Jika itu baik, mengapa tidak. Jiwa muda dapat menuai semangat yang membara. Maka, saya harus berguru pada suasana semangat itu.

0 komentar:

Post a Comment